YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 05 November 2016

“Indonesia adalah Negara Amplop”



               Mengapa saya menuliskan “Indonesia adalah Negara Amplop” karena kali ini saya ingin membahas kehidupan Indonesia yang semuanya menggunakan uang (amplop). Saya juga akan menceritakan kisah nyata saya sendiri. Indonesia merupakan Negara hukum, banyak aturan-aturan yang dibuat dalam Negara ini. Akan tetapi, semua aturan-aturan tersebut bisa hilang begitu saja dengan uang.
                Banyak di Pemerintahan Indonesia yang korupsi karena mereka juga menerima dan melakukan apa saja yang di inginkan orang dengan uang (amplop). Menurut mereka jika ada amplop semua akan beres. Bahkan….. hakim di Indonesia saja ada yang menirima amplop dari tersangka maupun terpidana yang terjerat hukum.
                Selain dari para pejabat pemerintah dan hakim, kalian juga tidak asing dengan aparat negara juga menerima amplop (uang) agar semuanya beres. Saat ditilang misalnya, pasti kalian ditanya “mau damai atau surat tilang?”. Sebagian orang pasti memilih surat karena mereka sudah tau alur jika menerima surat tilang bagaimana. Akan tetapi, bagaimana dengan orang awam? Yang tidak mengerti cara memprosesnya jika dapat surat tilang? Pasti sebagian orang yang tidak mengerti memilih untuk berdamai dengan amplop (uang) saat ditilang. Atau orang yang tidak ingin repot karena urusan persidangan bisa berlarut-larut jadi memilih berdamai.
                Jujur, saya juga pernah minta berdamai dengan polisi. Karena pada saat itu saya lagi kepepet ingin membeli kalkulator untuk ujian dan saya pergi beli naik motor tetapi tidak membawa STNK, hanya fotocopyannya saja tetapi aparat tersebut tetap ingin menilang saya karena tidak bawa STNK. Padahal saya membawa helm, sim c dan fotocopy STNK.
Begini ceritanya… Aparat tersebut ada 2 orang. Orang pertama bagian jagain jalan. Orang kedua bagian jaga pos. saat orang pertama tersebut menyuruh saya minggir. Saya pun ngikut perintahnya dan disuruh ke orang kedua yg berada di samping pos.
Org kedua : “ada SIM dan STNK?”
Saya : “ Adanya sim c sama fotocopy stnknya aja pak. Stnknya ketinggalan dirumah. Saya buru-buru nih pak mau ujian. Ini juga mau nyari kalkulator lagi karena kalkulator rusak.”
Org kedua : “saya tilang ya mba. Kan mba ga bawa STNK asli. Kalau ditilang sim c mba saya tahan pake surat biru nanti bisa ambil di polres *****. Atau mba mau damai aja?”.
Subhanallah hanya fotocopy stnknya saja. Padahal juga stnk saya selalu diperpanjang dan tidak masalah. Masalahnya menurut dia saya hanya bawa fotocopynya saja. Dia langsung Saat itu juga lagi pekan ujian, jika saya menerima surat tilang maka SIM C saya tidak bisa mengurusnya dengan segera. Dan jika saya ditilang lagi karena sim c nya tidak ada bagaimana?
Jadi saya memilih “yaudh deh pak. Damai aja. Berapa pak?” saya lansung to the point karena buru-buru. Org kedua : “150rb mba gemana?”.
Saat saya denger dia bilang sgtu saya langsung bingung dan kaget. Gilakkkk ndro mau naik haji lo pak??? Parah sih kesel banget meresnya. Mentang2 mahasiswi seenaknya diperes gt ya?!
Saya jawab aja “Pak saya mana ada uang segitu. Ini juga sya Cuma 75000 didompet, belom buat beli kalkulator Pak. 25000 aja deh pak”
Org kedua jawab : “Yaudah 50000 aja mba. 25000nya buat mba beli kalkulator”
Yeee busetdah ngana pikir harga kalkulator seharga nasipadang?? Tapi ya apa boleh buat. Waktu terus berjalan. Saya tetep harus berfikir gemana dapet kalkulator secepatnya.
Saya : “Yaudah deh pak. 50000 nih.” Saya langsung menyerahkan uangnya. Tetapi org tersebut menolak dan mengajak saya ketempat untuk bertransaksi.
Org kedua : “Ikut saya mba. Jangan disini ngasihnya”.
Tempat transaksinya dibelakang pos, tempatnya kecil dan gelap. Saya langsung memberikan uangnya. Dan org tersebut mengucapkan terima kasih. Itu pertama kalinya saya ditilang karena hanya membawa fotocopy STNK. Akhirnya juga saya ga jadi beli kalkulator dan minjem ke temen saya di universitas lain.
                Banyak juga masyarakat Indonesia pastinya yang kesal dengan aparat negara yang menilang dengan uang bahkan sampai memaksa. Orang tua teman saya pas saya masi sekolah SMA dulu. Dia bilang bapaknya, adeknya, dan ibunya ingin ke rumah sakit karena adeknya itu lagi sakit. Dan pada saat itu ada aparat negara yang menilang bapaknya karena adeknya ga pake helm. Padahal adeknya duduk ditengah dan Ibunya sudah pakai helm. Aparat tersebut tetap menilangnya dan meminta uang mereka.
                Saat itu bapak teman saya hanya membawa uang untuk berobat adeknya. Tetapi aparat tetap tidak percaya dan tetap memintanya. Akhirnya diberikanlah uang tersebut untuk aparat yang menilangnya. Dan keluarga teman saya tidak jadi berobat ke rumah sakit karena uangnya kurang. Kalo kata Alm.Ayah saya “Makanya ga heran kalo ada berita aparat negara ditembak oleh seseorang yang ga dikenal dan disumpahin oleh masyarakat . Karena itu terkadang masyarakat tidak terima dengan apa yang mereka lakukan. Aparat negara seharusnya mengayomi masyarakat dan melindunginya. Tapi apa? Di Negara Indonesia ini malah Aparat menyusahkan  masyarakat Indonesia terutama yang berada di jalan-jalan..
                Selain itu juga jika kita tidak mempunyai uang. Maka masalah kita tidak akan pernah dibantu atau diadilkan oleh Negara karena adanya orang-orang yang nakal. Yang diotaknya hanya ada “amploplah yang pertama”. Contohnya kasus Nenek Asyani yang ditahan di Situbondo Jawa Timur. Nenek yang sudah berumur ditahan selama 3 bulan padahal kasusnya tidak sampai merugikan negara.  Tidak hanya Nenek asyani, bahkan anak dari menantunya  juga mendapat penangguhan penahanan. Mereka tidak bisa mendapat perlindungan hukum karena hukum Indonsia sekarang yang sesungguhnya adalah uang. Sedangkan mereka tidak punya uang.
                Contoh lain yang menang dengan uang adalah kasus pelecehan anak di sekolah ternama. Saya pernah membaca dari media sosial bahwa ada seseorang yang mengikuti kasus JIS tersebut dan benar-benar Ia dalami smpai bertemu dengan keluarga terpidana bahwa sesungguhnya para terpidana benar-benar dari keluarga tidak mampu. Tidak ada yang membela mereka bahkan yayasannya juga tidak membela padahal yayasan tersebut tahu bahwa mereka tidak bersalah.
                Sesungguhnya anak tersebut terkena penyakit bukan karena dilecehkan. Tetapi karena orang tua si anak adalah orang yang berasal dari kalangan Atas dan bisa membela dengan pengacara yang mahal makanya mereka lah yang menang. Jika kalian menemukan cerita dari yang mengikuti jalannya kasus tersebut sampai mengunjungi keluarga terpidana maka kalian akan sedih saat membacanya. Yang tidak punya uang selalu kalah.
                Contoh terakhir dari kisah nyata saya lagi. Saat itu Mama saya ditelfon oleh teman Alm Ayah saya yang bekerja di kep*lisian. Jika saya sebutkan disini pasti kalian tau orang tersebut karena sering muncul di acara 8-6 di salah satu stasiun TV. Beliau menelfon menyuruh Mama saya untuk ke l*ka lant*s daerah dep*k untuk diberikan santuanan terkait dengan kecelakaan Ayah saya.
                Saat itu juga saya mengantar mama saya. Sampai disana kami disuruh masuk kedalam ruangan oleh seorang anggota kep*lisian yang berjaga saat itu dan ditanyakan perkara kejadian dari Ayah saya. Karena kasusnya sudah ditutup dan resmi karena kecelakaan.
Bapak tersebut bilang “Ibu. Ini kan sudah ditutup dan sudah jadi kasus kecelakaan. Saya disuruh menyampaikan oleh atasan saya bahwa bagaimana kalau kami bantu untuk mendapat santunan dari Jasa R*harja . Uangnya memang tidak seberapa dan mungkin juga kalaudigunakan juga pasti cepat habis ga kerasa ya bu.. jadi bagaimana jika ibu berminat, saya akan bantu dalam administrasinya.”
Mama saya jawab : “Yaudh pak saya ngikut saja.”
Bapak tersebut bilang : “Dari sana paling turun 25jt bu. Tapi untuk administrasi dan lain-lainnya disini juga setidaknya ibu bisa memberikannya sebagian. Terserah ibu mau berapa saja.”
Karena mama saya dan saya juga bingung bayar berapa ke mereka.
Mama saya hanya bilang : “Ya saya juga gatau pak berapa”

Bapak tersebut bilang : “Saya dapat amanat aja nih dari atasan saya kalau 15 juta buat kami. Dan 10 juta buat ibu. Tapi kalau ibu keberatan ya ibu bisa nawar”
Saya denger dipotong banyak begitu langsung nelfon kakak saya. Dan kakak saya marah-marah ditelfon karena banyak banget dipotongnya. Saya juga bisikin mama saya bahwa kakak saya ga terima dipotong banyak gitu. Tetapi mama saya mengabaikan kami dan mengIYAkan bahwa uang santunan Jasa Raharja dipotong segitu banyak oleh Aparat Negara. Karena menurut mama saya, jika kita tidak mengIYAkan bakal dipersulit dapetnya dank arena saya kuliah di daerah dep*k jadi biar amannya (tidak cari masalah dengan aparat negara daerah itu) maka mama saya menerimanya.
Pasti kalian juga tidak terima kan kalau berada diposisi saya. Itu hak saya dan keluarga karena Ayah saya kecelakaan sampai meninggal. Tetapi sama mereka (oknum-oknum nakal) malah diambil hak kami. Jika kami tidak memberikannya juga akan dipersulit oleh mereka.
Benar-benar hebat Negara Indonesia ini. SEMUANYA BISA BERJALAN HANYA DENGAN AMPLOP BERISI UANG. Jangan salahkan Presiden jika Indonesia sampai saat ini belum maju. Coba lihat isi-isi dari Negara Indonesia yang masih membuat Negara Indonesia tidak maju. Yang hanya memikirkan       UANG   dalam hidupnya. Yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya terlebih dahulu. Saya berharap, Indonesia kedepannya semakin berkurang orang-orang yang hanya memikirkan UANG. Semoga orang-orang Indonesia bekerja sesuai dengan apa yang harus dikerjakan dan bekerja dengan ikhlas.
-Bunga Dwi Astuti-
Notes : Jika ada yang keberatan dengan apa yang saya tulis di blog saya bisa langsung menghubungi via email bungada7@gmail.com . Untuk info tentang pelecehan anak saya akan cari lagi sumber yang pernah say abaca. Dan untuk yang lainnya saya berani mempertaruhkan apa yang saya tulis (terutama cerita nyata saya) karena hal tersebut memang benar adanya. Saya tidak akan pernah takut karena saya TIDAK BERBOHONG dan TIDAK BERSALAH. Alm Ayah saya selalu bilang dan selalu saya ingat “Jika kamu tidak salah jangan pernah takut dengan siapapun, apapun dan dimanapun.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar