Mengapa saya menuliskan “Indonesia adalah Negara Amplop”
karena kali ini saya ingin membahas kehidupan Indonesia yang semuanya
menggunakan uang (amplop). Saya juga akan menceritakan kisah nyata saya sendiri.
Indonesia merupakan Negara hukum, banyak aturan-aturan yang dibuat dalam Negara
ini. Akan tetapi, semua aturan-aturan tersebut bisa hilang begitu saja dengan
uang.
Banyak
di Pemerintahan Indonesia yang korupsi karena mereka juga menerima dan
melakukan apa saja yang di inginkan orang dengan uang (amplop). Menurut mereka
jika ada amplop semua akan beres. Bahkan….. hakim di Indonesia saja ada yang
menirima amplop dari tersangka maupun terpidana yang terjerat hukum.
Selain
dari para pejabat pemerintah dan hakim, kalian juga tidak asing dengan aparat
negara juga menerima amplop (uang) agar semuanya beres. Saat ditilang misalnya,
pasti kalian ditanya “mau damai atau
surat tilang?”. Sebagian orang pasti memilih surat karena mereka sudah tau
alur jika menerima surat tilang bagaimana. Akan tetapi, bagaimana dengan orang
awam? Yang tidak mengerti cara memprosesnya jika dapat surat tilang? Pasti
sebagian orang yang tidak mengerti memilih untuk berdamai dengan amplop (uang)
saat ditilang. Atau orang yang tidak ingin repot karena urusan persidangan bisa
berlarut-larut jadi memilih berdamai.
Jujur,
saya juga pernah minta berdamai dengan polisi. Karena pada saat itu saya lagi
kepepet ingin membeli kalkulator untuk ujian dan saya pergi beli naik motor
tetapi tidak membawa STNK, hanya fotocopyannya saja tetapi aparat tersebut
tetap ingin menilang saya karena tidak bawa STNK. Padahal saya membawa helm,
sim c dan fotocopy STNK.
Begini ceritanya… Aparat tersebut
ada 2 orang. Orang pertama bagian jagain jalan. Orang kedua bagian jaga pos.
saat orang pertama tersebut menyuruh saya minggir. Saya pun ngikut perintahnya
dan disuruh ke orang kedua yg berada di samping pos.
Org kedua : “ada SIM dan STNK?”
Saya : “ Adanya sim c sama fotocopy stnknya aja pak. Stnknya
ketinggalan dirumah. Saya buru-buru nih pak mau ujian. Ini juga mau nyari
kalkulator lagi karena kalkulator rusak.”
Org kedua : “saya tilang ya mba. Kan mba ga bawa STNK asli.
Kalau ditilang sim c mba saya tahan pake surat biru nanti bisa ambil di polres
*****. Atau mba mau damai aja?”.
Subhanallah hanya fotocopy stnknya saja. Padahal juga stnk
saya selalu diperpanjang dan tidak masalah. Masalahnya menurut dia saya hanya
bawa fotocopynya saja. Dia langsung Saat itu juga lagi pekan ujian, jika saya
menerima surat tilang maka SIM C saya tidak bisa mengurusnya dengan segera. Dan
jika saya ditilang lagi karena sim c nya tidak ada bagaimana?
Jadi saya memilih “yaudh deh pak. Damai aja. Berapa pak?”
saya lansung to the point karena buru-buru. Org kedua : “150rb mba gemana?”.
Saat saya denger dia bilang sgtu saya langsung bingung dan
kaget. Gilakkkk ndro mau naik haji lo pak??? Parah sih kesel banget meresnya.
Mentang2 mahasiswi seenaknya diperes gt ya?!
Saya jawab aja “Pak saya mana ada uang segitu. Ini juga sya
Cuma 75000 didompet, belom buat beli kalkulator Pak. 25000 aja deh pak”
Org kedua jawab : “Yaudah 50000 aja mba. 25000nya buat mba
beli kalkulator”
Yeee busetdah ngana pikir harga kalkulator seharga
nasipadang?? Tapi ya apa boleh buat. Waktu terus berjalan. Saya tetep harus
berfikir gemana dapet kalkulator secepatnya.
Saya : “Yaudah deh pak. 50000 nih.” Saya langsung
menyerahkan uangnya. Tetapi org tersebut menolak dan mengajak saya ketempat
untuk bertransaksi.
Org kedua : “Ikut saya mba. Jangan disini ngasihnya”.
Tempat transaksinya dibelakang pos, tempatnya kecil dan
gelap. Saya langsung memberikan uangnya. Dan org tersebut mengucapkan terima
kasih. Itu pertama kalinya saya ditilang karena hanya membawa fotocopy STNK.
Akhirnya juga saya ga jadi beli kalkulator dan minjem ke temen saya di
universitas lain.
Banyak
juga masyarakat Indonesia pastinya yang kesal dengan aparat negara yang
menilang dengan uang bahkan sampai memaksa. Orang tua teman saya pas saya masi
sekolah SMA dulu. Dia bilang bapaknya, adeknya, dan ibunya ingin ke rumah sakit
karena adeknya itu lagi sakit. Dan pada saat itu ada aparat negara yang
menilang bapaknya karena adeknya ga pake helm. Padahal adeknya duduk ditengah
dan Ibunya sudah pakai helm. Aparat tersebut tetap menilangnya dan meminta uang
mereka.
Saat
itu bapak teman saya hanya membawa uang untuk berobat adeknya. Tetapi aparat
tetap tidak percaya dan tetap memintanya. Akhirnya diberikanlah uang tersebut
untuk aparat yang menilangnya. Dan keluarga teman saya tidak jadi berobat ke
rumah sakit karena uangnya kurang. Kalo kata Alm.Ayah saya “Makanya ga heran
kalo ada berita aparat negara ditembak oleh seseorang yang ga dikenal dan
disumpahin oleh masyarakat . Karena itu terkadang masyarakat tidak terima
dengan apa yang mereka lakukan. Aparat negara seharusnya mengayomi masyarakat
dan melindunginya. Tapi apa? Di Negara Indonesia ini malah Aparat
menyusahkan masyarakat Indonesia
terutama yang berada di jalan-jalan..
Selain
itu juga jika kita tidak mempunyai uang. Maka masalah kita tidak akan pernah
dibantu atau diadilkan oleh Negara karena adanya orang-orang yang nakal. Yang
diotaknya hanya ada “amploplah yang pertama”. Contohnya kasus Nenek Asyani yang
ditahan di Situbondo Jawa Timur. Nenek yang sudah berumur ditahan selama 3
bulan padahal kasusnya tidak sampai merugikan negara. Tidak hanya Nenek asyani, bahkan anak dari
menantunya juga mendapat penangguhan
penahanan. Mereka tidak bisa mendapat perlindungan hukum karena hukum Indonsia sekarang
yang sesungguhnya adalah uang. Sedangkan mereka tidak punya uang.
Contoh
lain yang menang dengan uang adalah kasus pelecehan anak di sekolah ternama.
Saya pernah membaca dari media sosial bahwa ada seseorang yang mengikuti kasus
JIS tersebut dan benar-benar Ia dalami smpai bertemu dengan keluarga terpidana
bahwa sesungguhnya para terpidana benar-benar dari keluarga tidak mampu. Tidak
ada yang membela mereka bahkan yayasannya juga tidak membela padahal yayasan
tersebut tahu bahwa mereka tidak bersalah.
Sesungguhnya anak tersebut terkena
penyakit bukan karena dilecehkan. Tetapi karena orang tua si anak adalah orang
yang berasal dari kalangan Atas dan bisa membela dengan pengacara yang mahal
makanya mereka lah yang menang. Jika kalian menemukan cerita dari yang
mengikuti jalannya kasus tersebut sampai mengunjungi keluarga terpidana maka
kalian akan sedih saat membacanya. Yang tidak punya uang selalu kalah.
Contoh
terakhir dari kisah nyata saya lagi. Saat itu Mama saya ditelfon oleh teman Alm
Ayah saya yang bekerja di kep*lisian. Jika saya sebutkan disini pasti kalian
tau orang tersebut karena sering muncul di acara 8-6 di salah satu stasiun TV.
Beliau menelfon menyuruh Mama saya untuk ke l*ka lant*s daerah dep*k untuk
diberikan santuanan terkait dengan kecelakaan Ayah saya.
Saat
itu juga saya mengantar mama saya. Sampai disana kami disuruh masuk kedalam
ruangan oleh seorang anggota kep*lisian yang berjaga saat itu dan ditanyakan
perkara kejadian dari Ayah saya. Karena kasusnya sudah ditutup dan resmi karena
kecelakaan.
Bapak tersebut bilang “Ibu. Ini kan sudah ditutup dan sudah
jadi kasus kecelakaan. Saya disuruh menyampaikan oleh atasan saya bahwa
bagaimana kalau kami bantu untuk mendapat santunan dari Jasa R*harja . Uangnya
memang tidak seberapa dan mungkin juga kalaudigunakan juga pasti cepat habis ga
kerasa ya bu.. jadi bagaimana jika ibu berminat, saya akan bantu dalam
administrasinya.”
Mama saya jawab : “Yaudh pak saya ngikut saja.”
Bapak tersebut bilang : “Dari sana paling turun 25jt bu.
Tapi untuk administrasi dan lain-lainnya disini juga setidaknya ibu bisa
memberikannya sebagian. Terserah ibu mau berapa saja.”
Karena mama saya dan saya juga bingung bayar berapa ke
mereka.
Mama saya hanya bilang : “Ya saya juga gatau pak berapa”
Bapak tersebut bilang : “Saya dapat amanat aja nih dari atasan saya kalau 15 juta buat kami. Dan 10 juta buat ibu. Tapi kalau ibu keberatan ya ibu bisa nawar”
Saya denger dipotong banyak
begitu langsung nelfon kakak saya. Dan kakak saya marah-marah ditelfon karena
banyak banget dipotongnya. Saya juga bisikin mama saya bahwa kakak saya ga
terima dipotong banyak gitu. Tetapi mama saya mengabaikan kami dan mengIYAkan
bahwa uang santunan Jasa Raharja dipotong segitu banyak oleh Aparat Negara.
Karena menurut mama saya, jika kita tidak mengIYAkan bakal dipersulit dapetnya
dank arena saya kuliah di daerah dep*k jadi biar amannya (tidak cari masalah
dengan aparat negara daerah itu) maka mama saya menerimanya.
Pasti kalian juga tidak terima
kan kalau berada diposisi saya. Itu hak saya dan keluarga karena Ayah saya
kecelakaan sampai meninggal. Tetapi sama mereka (oknum-oknum nakal) malah
diambil hak kami. Jika kami tidak
memberikannya juga akan dipersulit oleh mereka.
Benar-benar hebat Negara
Indonesia ini. SEMUANYA BISA BERJALAN
HANYA DENGAN AMPLOP BERISI UANG. Jangan salahkan Presiden jika Indonesia
sampai saat ini belum maju. Coba lihat isi-isi dari Negara Indonesia yang masih
membuat Negara Indonesia tidak maju. Yang hanya memikirkan UANG
dalam hidupnya. Yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya terlebih
dahulu. Saya berharap, Indonesia kedepannya semakin berkurang orang-orang yang
hanya memikirkan UANG. Semoga orang-orang Indonesia bekerja sesuai dengan apa
yang harus dikerjakan dan bekerja dengan ikhlas.
-Bunga Dwi
Astuti-
Notes : Jika ada yang keberatan dengan apa yang saya tulis
di blog saya bisa langsung menghubungi via email bungada7@gmail.com . Untuk info tentang
pelecehan anak saya akan cari lagi sumber yang pernah say abaca. Dan untuk yang
lainnya saya berani mempertaruhkan apa yang saya tulis (terutama cerita nyata
saya) karena hal tersebut memang benar adanya. Saya tidak akan pernah takut
karena saya TIDAK BERBOHONG dan TIDAK BERSALAH. Alm Ayah saya selalu bilang dan
selalu saya ingat “Jika kamu tidak salah jangan pernah takut dengan siapapun,
apapun dan dimanapun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar